Blog ini sedang dalam masa pemeliharaan.

Mundur dari Organisasi (Lagi, dan Permanen)

Kali ini serius, dan permanen.

Prakata

Belakangan ini —atau tepatnya sehabis Lebaran 1442 H— saya berulang kali mendapati jerawat baru di wajah. Padahal selama masa ini, saya tidak banyak mengonsumsi gula, jarang aktivitas keluar rumah, sering mencuci muka, juga tidur teratur. Saya pikir jerawat ini muncul bukan karena pola hidup saya yang tidak sehat, melainkan hal lain sedang terjadi. Secara bersamaan, hari ini saya sudah berulang kali ke kamar mandi karena masalah pencernaan. Padahal pola makan saya teratur meski hanya 2 kali makan besar dan 1 kali makan jajanan ringan. Tampaknya produksi asam lambung saya terus meningkat hingga akhirnya mengacaukan sistem pencernaan. Ada apa gerangan?

Stres. Ya, ini jawabannya. Saya memang sedang memikirkan salah satu masalah yang sebenarnya sudah terjadi sejak Juli tahun lalu. Pada waktu itu, sewaktu masih dalam ajang Tour De Java, saya mendapati pesan dengan pernyataan aneh. Tepatnya dua hari setelah aksi besar Tolak Omnibus Law pada 16 Juli. Pesan itu datang dari nomor tak dikenal dengan kontak yang tidak saya simpan. Maklum, ponsel Samsung J2 pinjaman ini sangat membantu meski seadanya guna menggantikan ponsel saya yang rusak sewaktu hari aksi. Saya perlu adaptasi: bahkan untuk bisa memotret tangkapan layar pun saya bingung caranya karena ini Android lawas. Nomor dengan foto profil bawaan itu dengan intonasi serius menanyakan apakah benar saya menggunakan anggaran organisasi untuk menyelesaikan sepeda yang dirakit untuk ke Jakarta? Tentu saja pesan itu menanyakan perihal transparansi si Kromo. 'Enggak mas/mbak, ini murni pakai uang pribadi,' jawab saya santai sembari bertanya-tanya siapa orang di balik nomor ini.

Dan lagi, pesan demi pesan menyudutkan saya dengan kalimat menuduh saya menggelapkan uang organisasi. Asumsinya: saya menggunakan akun media sosial organisasi untuk meliput aksi Tolak Omnibus Law, serta kedekatan saya dengan koordinator organisasi. Penggunaan media sosial pun dianggap sebagai bentuk penyelewengan aset organisasi guna kepentingan pribadi, menaikkan reputasi dengan medium milik organisasi. Oke, saya memang sempat dekat ketika ybs. belum tersangkut masalah di organisasi yang sama. Namun hubungan kami sebatas hubungan profesional ketika saya memodernisasi sistem pengarsipan dan tata kelola media di organisasi. Tidak lebih. Tuduhan bahwa saya menggelapkan uang organisasi terlalu mengada-ada.

Kesal, saya pun tidak lagi menanggapi obrolan yang lebih pada intimidasi dari nomor tersebut. Intimidasi? Ya, karena nomor dengan kepemilikan anonim ini tahu, mengulik, dan memaki sisi pribadi saya. Ia juga tahu saya mengalami kesulitan finansial yang kemudian dikaitkan dengan tuduhan penggelapan uang organisasi guna keperluan pribadi. Padahal saya sudah punya manajemen keuangan yang matang sejak 2019, dan konsisten berlangsung hingga sekarang. Dengan segera saya menyatakan keluar dari grup jaringan komunikasi relawan dengan izin terlebih dahulu dari koordinator. 'Rehat,' alasan saya.

Tak lama, ada japri dari nomor berbeda dengan muatan yang sama: tuduhan korupsi. Pesan yang ini masuk di jelang akhir Agustus 2020 ketika saya sedang menunggu datangnya ponsel baru. Entah bagaimana bisa japri dari nomor tanpa avatar menyatakan ponsel yang sedang dalam pengiriman itu mengambil dana dari rekening organisasi yang bahkan saya sendiri tidak tahu dimana kartu ATM dan buku tabungannya. Tentu saja saya mengelak karena memang pembelian ponsel itu murni kasbon gaji kantor 2 bulan (keuangan saya memang belum stabil waktu itu). Terpaksa saya kirim pula bukti transfer kawan saya nun jauh di Sulawesi yang meminjami uang supaya ponsel saya terbukti bukan hasil pencucian uang. Apalagi uang organisasi!

Bulan demi bulan berlalu. Usaha saya untuk mengulik siapa pelaku penebar informasi salah tidak kunjung ketemu. Saya juga tidak tahu sampai mana rumor ini menyebar dan merusak reputasi saya di mata pergerakan sosial, khususnya kalangan internal organisasi ini. Saya juga sudah berusaha mencari informasi di kalangan internal organisasi dan tidak membuahkan hasil. Alih-alih menemukan titik terang, belakangan ini saya juga mendapat masalah personal dengan beberapa orang di kalangan organisasi tersebut. Hubungan sosial renggang? Tentu saja. Mungkin konsekuensi ketika rumor negatif soal saya juga menyebar ke penjuru organisasi.

***

Lalu, Apa Selanjutnya?

Rekan di organisasi sebelah, bahkan orang tua juga sudah saya curhati. Sebagian besar mereka merekomendasikan saya untuk mundur dari organisasi dan melepas segala tanggung-jawab yang ada.

'Makanya Jo, cari orang yang percaya sama kamu dan kamu juga percaya, angkat di group adakan pembicaraan terbuka, habis pembicaraan publik lewat pembuktian, dan tantang aja yang kasih fitnah siapa, baru kalo gak ada yang berani, nah kamu kasih statement aja buat keluar wkwk'

'Tantang balik kalo mau buktikan secara terbuka saling bicara  wes berani aja kaya yang bikin desas desus berani aja'

'Lah belum mundur to? Tak kirain udah dari lama wkwkwkwk'

Keputusan saya sudah bulat: undur diri.

Cuma seorang pejalan yang gemar memaknai hubungan sosial.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.